Rabu, 30 September 2009

Kain Sasirangan - Banjar Kalimantan Selatan

Kain sasirangan adalah sejenis kain yang diberi gambar dengan corak dan warna tertentu yang sudah dipolakan secara tradisional menurut citarasa budaya yang khas etnis Banjar di Kalsel.

Secara etimologis istilah Sasirangan bukanlah kata benda sebagaimana yang dikesankan oleh pengertian di atas, tapi adalah kata kerja. Sa artinya satu dan sirang artinya jelujur. Ini berarti sasirangan artinya dibuat menjadi satu jelujur.Kain sasirangan memang identik dengan kain yang diberi gambar dengan corak warna-warm berbentuk garis-garis jelujur yang memanjang dari bawah ke atas (vertikal). Sungguhpun demikian, istilah sasirangan sudah disepakati secara social budaya (arbitrer) kepada benda berbentuk kain (kata benda).
Pada mulanya kain sasirangan disebut kain langgundi, yakni kain tenun berwana kuning. Ketika Empu Jatmika berkuasa sebagai raja di Kerajaan Negara Dipa pada tahun 1355-1362. Kain langgundi merupakan kain yang digunakan secara luas sebagai bahan untuk membuat busana harian oleh segenap warga negara Kerajaan Negara Dipa.
Hikayat Banjar memaparkan secara tersirat bahwa di kawasan yang sekarang ini dikenal sebagai pusat kota Amuntai banyak berdiam para pengrajin kain langgundi. Keterampilan membuat kain langgundi ketika itu tidak hanya dikuasai oleh para wanita yang sudah tua saja, tetapi juga dikuasai oleh para wanita yang masih gadis belia. Paparan ini menyiratkan bahwa kain langgundi ketika itu memiliki pangsa pasar yang besar. Jika tidak, maka sudah barang tentu tidak bakal banyak warga negara Kerajaan Negara Dipa yang menekuninya sebagai pekerjaan utama. Bukti bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para pembuat kain langgundi adalah paparan tentang keberhasilan Lambung Mangkurat memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai syarat kesediaannya untuk dijadikan raja putri di Kerajaan Negara Dipa.Menurut Hikayat Banjar, Putri Junjung Buih ketika itu meminta Lambung Mangkurat membuatkan sebuah mahligai megah yang harus selesai dikerjakan dalam tempo satu hari oleh 40 orang tukang pria yang masih bujangan. Selain itu, Putri Junjung Buih juga meminta Lambung Mangkurat membuatkan sehelai kain langgundi yang selesai ditenun dan dihiasi dalam tempo satu hari oleh 40 orang wanita yang masih perawan.Semua permintaan Putri Junjung Buih itu dapat clipenuhi dengan mudah oleh Lambung Mangkurat. Paparan ini menyiratkan bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para tukang pria yang masih bujang, dan para penenun wanita yang masih perawan. Jika tidak, maka sudah barang tentu Lambung Mangkurat tidak akan mampu memenuhi semua permintaan Putri Junjung Buih. Pada hari yang telah disepakati, naiklah Putri Junjung Buih ke alam manusia meninggalkan tempat persemayamannya selama ini yang terletak di dasar Sungai Tabalong. Ketika itulah warga negara Kerajaan Negara Dipa melihat Putri Junjung Buih tampil dengan anggunnya. Pakaian kebesaran yang dikenakannya ketika itu tidak lain adalah kain langgundi warna kuning basil tenuman 40 orang penenun wanita yang masih perawan (Ras, 1968 : Baris 725-735, Hikajat Bandjar)
Merujuk kepada paparan yang ada di dalam Hikayat Banjar (selesai ditulis tahun 1635), kain langgundi sebagai cikal bakal kain sasirangan sudah dikenal orang sejak tahun 1365 M. Namun, sudah barang tentu kain langgundi yang dibuat pada kurun-kurun waktu dimaksud sudah tidak mungkin ditemukan lagi artefaknya.Menurut laporan Wulan (2006), kain sasirangan yang paling tua berusia sekitar 300 tahun. Kain sasirangan ini dimiliki oleh Ibu Ida Fitriah Kusuma, salah seorang warga kota Banjarmasin (Tulah Mata Picak Tangan Tengkong, SKH Mata Banua Banjarmasin, Senin, 13 November 2006, hal 1 bersambung ke hal 13). Konon, sejak Putri Junjung Buih mengenakan kain langgundi, maka sejak itu pula, warga negara Kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi mengenakan kain langgundi. Mereka khawatir akan kualat karena terkena tulah Putri Junjung Buih yang sejak itu menjadi raja putri junjungan mereka. Akibatnya, para pengrajin kain langgundi tidak lagi membuatnya, karena pangsa pasarnya memang sudah tidak ada lagi. Meskipun demikian, kain langgundi ternyata tidaklah punah sama sekali. Beberapa orang warga negara Kerajaan Negara Dipa masih tetap membuatnya. Kali ini kain langgundi dibuat bukan untuk dijadikan sebagai bahan pembuat busana harian, tetapi sebagai bahan pembuat busana khusus bagi mereka yang mengidap penyakit pingitan. Penyakit pingitan adalah penyakit yang diyakini sebagai penyakit yang berasal dari ulah para arwah leluhur yang linggal di alam roh (alam barzah).Menurut keyakinan yang sudah berurat berakar di kalangan etnis Banjar di Kalsel, konon para arwah leluhur itu secara berkala akan menuntut anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya untuk mengenakan kain langgundi. Begitulah, setiap satu, tiga, lima, dan tujuh tahun anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya akan jatuh sakit akibat terkena penyakit pingitan. Tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkannya dari penyakit pingitan itu kecuati mengenakan kain langgundi. Kain langgundi yang di pergunakan sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan alternatif itu dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan keperluan, seperti sarung (tapih bahalai), bebat (babat), selendang (kakamban), dan ikat kepala (laung).
Corak dan warna gambar kain langgundi sangatlah beragam (tidak melulu bercorak getas dan berwarna dasar kuning saja), karena setiap jenis penyakit pingitan menuntut adanya kain langgundi dengan corak dan warna gambar tertentu yang saling berbeda-beda. Sejak dipergunakan sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan alternatif inilah kain langgundi lebih dikenal sebagai kain sasirangan. Nama ini berkaitan dengan cara pembuatan, yakni disirang (kain yang dijelujur dengan cara dijahit kemudian dicelup ke dalam zat pewarna). Ketika masih bernama kain langgundi, kain sasirangan difungsikan sebagai kain untuk busana semua lapisan masyarakat di Kerajaan Negara Dipa, bahkan mungkin sejak zaman keemasan Kerajaan Nan Sarunai sebelum ditaklukkan oleh Empu Jatmika pada tahun 1355. Ini berarti fungsi kain sasirangan ketika itu (sebelum tahun 1355) merujuk kepada fungsi umum sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani seluruh warga negara.
Setelah Putri Junjung Buih, kemudian Pangeran Surianata, dan anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya berkuasa di Kerajaan Negara Dipa, kain langgundi hanya boleh dikenakan sebagai busana kebesaran para bangsawan kerajaaan. Rakyat jelata tidak berani mengenakannya sebagai busana harian karena, takut terkena tulah. Ini berarti fungsi kain sasirangan ketika, itu (sesudah tahun 1335) merujuk kepada fungsi khusus sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan jasmani bagi para bangsawan kerajaan saja.Fauzi (1993), memperkirakan sejak abad ke 14-15 kain sasirangan berubah menjadi kain yang dikeramatkan dan kain Pamintaan, yakni kain yang hanya dibuat berdasarkan permintaan anak, cucu, buyut, intah piat para bangsawan pengidap penyakit pingitan. Konon, diyakini tidak ada obat lain yang mujarab bagi para pengidap penyakit pingitan ini selain dari pada mengenakan kain sasirangan di kepala (ikat kepala, selendang), di perut (bebat), atau bahkan menjadikannya sebagai selimut fidur (sarong). Menurut penuturan nenek Jumantan (72 tahun), seorang juru sembuh terkenal di kota Banjarmasin, para pasien penyakit pingitan yang datang berobat kepadanya tidak lain adalah orang-orang yang masih mempunyai hubungan pertalian darah dengan nenek moyang mereka yang dulu tinggal di Amuntai, Alabio, Kalua, dan Margasari (Wulan, 2006). Patut diduga, nenek moyang para pasien nenek Jumantan tersebut tidak lain adalah anak, cucu, buyut, intah, piat dari 40 orang wanita perawan yang dulu berjasa membantu Lambung Mangkurat membuatkan kain langgundi yang diminta oleh Putri Junjung Buih. Ini berarti fungsi kain sasirangan sudah bergeser.
Perbedaan asal-usul geneologis nenek moyang antara anak, cucu, keturunan bangsawan berdarah biro menuntut perlakuan yang berbeda dalam hal proses penyembuhan. Proses penyembuhan penyakit yang dideritanya, keturunan rakyat jelata dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana. Sekadar meminum air putih yang sudah diberi mantra-mantra atau doa-doa oleh para jurusembuhnya.Sementara proses penyem¬buhan penyakit yang diderita oleh keturunan bangsawan sudah mengalami perumitan yang sedemikian rupa. Proses penyembuhan penyakit yang mereka derita harus dilengkapi dengan terapi mengenakan kain sasirangan yang harganya relatif mahal . Paparan ini merupakan petunjuk bahwa kain sasirangan pada zaman dahulu kala pernah menjadi simbol status sosial di kalangan etnis Banjar di Kalsel.
Kasus semacam ini masih terjadi hingga sekarang ini. Rakyat jelata yang hidupnya miskin hanya diberi fasilitas pengobatan setara dengan dana yang tersedia dalam program asuransi kesehatan bagi rakyat miskin. Sementara itu para pejabat bahkan para mantan pejabat diberi fasilitas pengobatan yang terbilang istimewa dan dirawat di rumah sakit berkelas dengan dana ditanggung negara. Menurut keterangan nenek Antung Kacit, siapa saja yang nenek moyangnya bukan keturunan bangsawan atau bukan keturunan pembuat kain sasirangan, akan kualat karena terkena tulah yang sangat menakutkan, yakni ninta picak tangan tengkong (bahasa Banjar, arfinya mata buta dan tangan mati rasa karena terkena stroke).

Kain Pinawitengan - Sulawesi Utara

Batu Pinawetengan menurut Cerita Rakyat.
Ceritera rakyat mengenai adanya batu Pinawetengan di temukan penulis J.G.F Riedel dari cerita rakyat tombulu yang di cetak dalam bentuk buku berjudul "AASAREN TUAH PUHUHNA NE MAHASA" terbit di tahun 1870 dalam bahasa Tombulu. Lokasi tempat batu Pinawetengan pada mulanya hanya disebut tempat berkumpulnya penduduk Minahasa yang terletak di tengah-tengah Tanah Minahasa. Kemudian disebut tempat Pahawetengan Posan, pembahagian tatacara beribadat agama suku. Lokasinya disebuah tempat yang bernama bukit AWOHAN (AWOAN) di Tompaso.

Istilah Watu Pinawetengan pada waktu itu belum ada, karena batu suci tempat upacara PAHAWETENGAN POSAN belum ditemukan karena sudah tertimbun dan masuk ke dalam tanah. Kemudian di tahun 1888 pada bulan Juni J.Alb.T. Schwarz seorang pendeta di Sonder membiayai penggalian batu Suci orang Minahasa tersebut, dan bulan Juli 1888 batu itu di temukan lalu lahirlah istilah "Watu Pinawetengan". Usia gambar-gambar di batu Pinawetengan di analisa penulis J.G.F Riedel berasal dari abad ke-7 (tujuh).


Analisa Arti Gambar Oleh J.Alb.T Schwarz.

Orang pertama yang menganalisa garis gambar di permukaan batu Pinawetengan adalah Pendeta J.Alb.T Schwarz, berdasarkan komentar Hukum Tua Kanonang Joel Lumentah. Keterangan Hukum Tua Kanonang dan seorang guru dari Sonder hanya mengenai bentuk segi-tiga adalah bentuk atap rumah pemimpin utama Minahasa yang memimpin upacara adat di batu Pinawetengan. Keterangan penting lainnya adalah gambar-gambar yang ada di tahun 1888 dan sekarang ini sudah hilang. Seperti gambar kelelawar, ikan hiu, buaya, jaring penangkap ikan. Hanya sampai disini uraian penulis J.Alb. Schwarz dalam bukunya "ETHNOGRAPHICA VIT DE MINAHASSA". Arti gambar manusia tidak dapat di analisa oleh Penulis J.Alb.T Schwarz.


Analisa Arti Gambar Oleh Jessy Wenas.

Penulis melanjutkan penelitian arti gambar batu Pinawetengan dengan melengkapi data cerita rakyat Tontemboan buku tulisan J.Alb.T.Schwarz "Tontembeansche Taksten" terbitan tahun 1907. bahwa pemimpin upacara adat di pinawetengan Maha dewa Muntu-Untu tidak hanya satu orang tapi ada beberapa orang dalam kurun waktu 800 Tahun. Kemudian membandingkan gambar manusia di Pinawetengan yang punya kesamaan dengan gambar manusia di gua Angano Filipina yang berusia 3000 tahun yang lalu, memberi data bahwa pembuatan gambar di batu Pinawetengan bukan hanya mulai dari abad ke-7 tetapi sudah di mulai sejak jaman sebelum Masehi. Untuk lebih mendalami penelitian simbol-simbol perbandingan gambar-gambar binatang dan benda lainnya dari sistim zodiak Minahasa dari buku " De alfoersche Dierenriem " tulisan pendeta berkebangsaan Belanda Jan Ten Hove cetakan Tahun 1887. Karena uraian simbol-simbol gambar zodiak buku JAN TEN HOVE tahun 1887 sangat jelas mengenai penggunaan simbolisasi itu. Maka bahan keterangan data itu digunakan penulis untuk menguraikan lebih jauh arti- arti gambar yang bukan gambar manusia di permukaan batu Pinawetengan.

Kain Kerawang - Gorontalo


Kain Kerawang
Asal Daerah/Kota: Gorontalo
Propinsi: Sulawesi Utara
Kain kerawang biasanya terdapat corak yang tidak rata memenuhi pipa bidang, bahkan cederung hanya sebagai pemanis (aksen) keseluruhan kain. Pada teknik ini benang pakan pada bagian-bagian tertentu dipotong sehingga yang tersisa jajaran benang-benang lungsi saja. Lungsi-lungsi inilah yang disulam sehingga muncullah corak-corak tetentu.


Selasa, 29 September 2009

Kain UIS - Sumatera Utara

UIS
Masyarakat karo mengenal UIS, kain yang ditenun dari benang. Biasanya Kain UIS ini dipakai dalam upacara/acara adat. Bahkan dalam zaman modern saat ini masih banyak digunakan. Tidak jarang kaum ibu masih terus menggunakannnya, termasuk memakainya dalam ibadah di gereja.


(http://budaya-indonesia.org)

Kain Kambala - Sumba NTT


Kain Kambala
Asal Daerah/Kota: Sumba Timur

Propinsi: NTT
Deskripsi: Kain koleksi Biranul Anas, Bandung (65 x 200 cm).
Kain Kambala merupakan kain tempa kulit kayu dengan tingkat kelenturan lembar juga relatif rendah. yang berhiaskan corak-corak khas yang terdapat dalam alam kepercayaan masyarakat setempat. Teknik terapan yang digunakan adalah sulam dan rat pewarna bubukan (coletan) sederhana.

(http://budaya-indonesia.org/)

Senin, 28 September 2009

Capo - Papua

Capo
Asal Daerah/Kota: Papua, Propinsi: Papua
Capo merupakan sejenis kain tempa dengan hiasan pilin ganda.

Kain Kombouw - Papua

Kombouw
Asal Daerah: sekitar Danau Sentani, Papua
Deskripsi: Berupa lembar-lembar kain berukuran : 6Ox70 cm, terbuat dari kulit kayu tempa daerah danau Sentani, Irian Jaya, dihias dengan corak-corak dari zat pewarna, pigmen warna Putih terbuat dari kerang-kerangan, Hitam atau nokoman diperoleh dari jelaga, dan merah atau hasai yang dibuat dari tanah merah.

Kain Ulos - Sumatera Utara

Ulos
Pada zaman dahulu, sebelum orang Batak mengenal Tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Ulos pada umumnya terbuat dari sejenis benang yang dipintal dari kapas (randu), yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya, yang dapat merupakan ukuran dalam penentuan nilai sebuah ulos. Tingkat keahlian pembuatan ulos dilihat dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna yang diinginkan.
Ulos Jugia
Ulos ini disebut juga ulos na so ra pipot atau pinunsaan. Jenis ini menurut kepercayaan orang Batak tidak boleh dipakai kecuali oleh orang yang sudah saurmertua, yaitu semua anak laki-laki dan perempuan sudah menikah dan dari semua anaknya itu telah mempunyai cucu. Hanya orang yang demikianlah yang disebut na gabe yang berhak memakai ulos tersebut. Ulos ini sering merupakan barang warisan orangtua kepada anaknya dan nilainya sama dengan sitoppi (emas yang dipakai oleh istri raja-raja pada waktu pesta).
Ulos Ragi Hotang
Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pangantin dan disebut Ulos Hela. Pemberian ulos ini dimaksudkan agar ikatan batin kedua pengantin dapat teguh seperti rotan (hotang). Cara pemberiannya kepada kedua pengantin ialah disampirkan dari sebelah kanan pengantin laki-laki setinggi bahu terus sampai ke sebelah kiri pengantin perempuan. Ujung sebelah kanan dipegang oleh pengantin laki-laki dan ujung sebelah kiri dipegang oleh pengantin perempuan, lalu disatukan di tengah dada seperti terikat. Dahulu rotan dipergunakan sebagai tali pengikat sebuah benda yang dianggap paling kuat dan ampuh. Falsafah inilah yang dilambangkan oleh ulos Ragi Hotang tersebut.
Ulos Sadum
Ulos ini penuh dengan warna-warni yang ceria sehingga sangat cocok dipakai untuk suasana sukacita. Di Tapanuli Selatan misalnya ulos ini biasanya dipakai sebagai Ulos Panjangki (parompa) bagi keturunan “Daulat, Baginda atau Raja”. Untuk mengundang (marontang) Raja-raja, ulos ini dipakai sebagai alas sirih diatas pinggan godang (burangir/haronduk panyurduan). Aturan pemakaian ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan yang dilarang memakai ulos ini. Karena motifnya yang indah di daerah lain ulos ini sering diberikan sebagai kenang-kenangan atau dibuat sebagai hiasan dinding.
Ulos Runjat
Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau terpandang sebagai Ulos Edang-Edang (pada waktu pergi ke undangan). Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Natolu di luar Hasuhoton Bolon, misalnya oleh Tulang, Pariban dan Pamarai. Ulos ini dapat diberikan pada waktu mengupa-upa atau waktu ulaon si las ni roha (acara gembira).
Ulos Sibolang
Ulos ini dapat dipakai untuk keperluan suka dan duka. Untuk keperluan dukacita biasanya dipilih dari jenis warna hitam yang lebih menonjol, sedangkan untuk peristiwa sukacita dipilih jenis ulos dengan warna putih yang lebih menonjol. Ulos ini banyak dipergunakan orang untuk peristiwa dukacita. Misalnya untuk Ulos Saput atau Ulos Tajung harus dari jenis ulos ini dan tidak boleh dari jenis yang lain. Dalam upacara perkawinan, ulos ini biasa dipakai sebagai tutup ni ampang dan juga bisa disandang, akan tetapi harus dipilih dari jenis yang warna putihnya menonjol. Inilah yang disebut Sibolang Pamontari. Karena ulos ini dapat dipakai untuk segala keperluan adat, maka ulos ini terlihat paling banyak dipakai dalam upacara adat, sehingga dapat dikatakan lebih memasyarakat dengan harga yang relatif murah. Hanya saja ulos ini tidak lazim dipakai sebagai Ulos Pengupa atau Parompa.
Ulos Suri-Suri Ganjang
Ulos ini dinamai Ulos Suri-Suri Ganjang karena raginya berbentuk sisir memanjang. Ulos ini dapat diberikan sebagai Ulos Hela kepada pengantin baru. Dahulu ulos ini dipergunakan sebagai ampe-ampe/hande-hande. Pada waktu margondang (memukul gendang) ulos ini dipergunakan oleh pihak hula-hula untuk manggabei pihak borunya. Karena itu ulos ini sering disebut juga ulos sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini, yaitu karena panjangnya melebihi ulos biasa, sehingga bisa dipakai sebagai ampe-ampe, bila dipakai dua lilit pada bahu kiri dan kanan maka akan terlihat si pemakai layaknya memakai 2 buah ulos.
Ulos Mangiring
Ulos ini mempunyai ragi yang saling beriringan yang melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Sering diberikan oleh orang tua sebagai Ulos Perompa kepada cucunya, agar seiring dengan pemberian ulos itu kelak akan lahir pula adik-adiknya sebagai temannya yang seiring dan sejalan. Sebagai pakaian sehari-hari ulos ini dapat dipakai sebagi tali-tali (detar) untuk laki-laki dan untuk wanita disebut saong atau tudung. Pada waktu upacara mampe goar ulos ini dapat pula dipakai sebagai bulang-bulang, diberikan oleh pihak hula-hula kepada menantunya.
Ulos Bintang Maratur
Raginya menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang ini menggambarkan orang yang patuh, rukun dalam ikatan kekeluargaan. Juga dalam hal sinandongan (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan) tidak ada yang timpang. Semuanya berada pada tingkatan yang rata-rata sama. Dalam hidup sehari-hari dapat dipakai sebagai hande-hande (ampe-ampe) juga dapat dipakai sebagai tali-tali atau saong. Nilai dan fungsinya sama dengan ulos pengiring.
Ulos Sitoluntuho
Ulos ini biasanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat, kecuali bila diberikan kepada sebagi seorang anak yang baru lahir sebagai Ulos Parompa. Jenis ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan yang dalam istilah adat dikatakan Ulos Panoropi yang diberikan oleh pihak hula-hula kepada pihak boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut Sitoluntoho karena raginya berjejer tiga merupakan tuho atau tugal, yang biasanya dipakai untuk melubangi tanah untuk menanam benih.
Ulos Jungkit
Ulos jenis ini juga disebut Ulos na Nidongdang atau Ulos Purada. Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para gadis dari keluarga Raja-raja yang merupakan hoba-hoba yang dipakai hingga batas dada. Juga pada waktu menerima tamu pembesar atau upacara perkawinan. Dahulu purada atau permata ini dibawa oleh saudagar-saudagar dari India lewat pelabuhan Barus. Akan tetapi pada pertengahan abad XX permata tersebut tidak lagi diperdagangkan, maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara majungkit benang ulos tersebut.
Ulos Lain-lain
Masih ada lagi ulos batak yang lain, namun sudah jarang dipergunakan dalam acara-acara adat biasa. Misalnya Ulos Lobu-lobu yang mempunyai keperluan khusus untuk orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak). Jenis ulos lainnya antara lain seperti Ragi Panei, Ragi Hatirongga, Ragi Ambasang, Ragi Sidosdos, Ragi Sampuborna, Ragi Siattar, Ragi Sapot, Ragi Siimput ni Hirik, Ulos Bolean, Ulos Padang Rusa, Ulos Simata, Ulos Happu, Ulos Tukku, Ulos Lobu-lobu dan lain-lain.