Senin, 08 April 2013

Sejarah wastra batik

Seni membuat wastra batik dikenal oleh beberapa etnis bangsa. Siapa pun boleh membuat wastra batik. Namun pola dan motif batik di Indonesia merujuk pada sikap pandang manusia pada lanskap lingkungan dan kehidupan, diungkap dalam bentuk-bentuk stilasi. Seperti tumbuhan, gunung, hewan, sawah, sungai, laut dan ikon kehidupan kuno lainnya.

Bentuk pola kuno yang sangat popouler adalah parang rusak, yang kisah penciptaannya masih kerap diperdebatkan. Dalam buku H.Santosa Doellah/Danar Hadi 2002, motif pola parang rusak muncul di masa Raden Panji, pahlawan Kerajaan Kediri dan Jenggala, Jawa Timur pada abad ke 11. Yang lain percaya, desain ini diciptakan oleh Sultan Agung dari Mataram (1613-1645) usai meditasi di pantai selatan Jawa. Konon, ilham datang dari fenomena gelombang-gelombang besar yang memecah karang dan merusaknya. Dalam bahasa Jawa, istilah parang dekat dengan kata karang. Parang rusak berarti karang yang pecah atau rusak.

Lain lagi cerita cerita tentang batik truntum. Berawal dari taman Bale Kambang di Solo, yang dulunya tempat nyepi Kanjeng Ratu Beruk permaisuri Sri Susuhunan Paku Buwono III, yang sedih karena tak lagi menerima cinta kasih raja. Dalam keprihatinan, Ratu beruk membatik. Sepenuh rasa ia menoreh canting dan cairan malam, sampai sang raja singgah dan mengagumi wastra batik itu sebagai truntum, yang berarti timbul atau berkumpul.

*diambil dari femina, lupa nomernya...*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar